Thursday, April 11, 2013

Kerja Selamat, Bisnis Melesat




Keselamatan kerja yang baik akan mewujudkan bisnis yang terbaik, itu yang seharusnya kita yakini untuk mendorong keselamatan kerja yang lebih baik. Sayangnya, berdasarkan pengalaman saya sebagai praktisi komunikasi keselamatan kerja atau sering disebut dengan istilah Health, Safety and Environment (HSE) dan bertemu dengan klien dari berbagai bidang industri, sebagian besar para pemilik bisnis dan pemegang keputusan perusahaan memiliki pemahaman yang berbeda. HSE masih dianggap sebagai sumber pengeluaran perusahaan yang harus ditekan, karena tidak berpengaruh signifikan terhadap keuntungan perusahaan. Sebagian lagi memandang HSE hanya perlu diterapkan ketika ada audit dari Depnaker atau lembaga sertifikasi.


Faktanya, kecelakaan di tempat kerja dan kecelakaan kerja merupakan beban ekonomi yang cukup besar bagi individu, pengusaha dan masyarakat secara keseluruhan. Setiap tahun, 4,9 juta kecelakaan kerja mengakibatkan adanya ketidakhadiran pekerja lebih dari 3 hari. Biaya kecelakaan di tempat kerja dan penyakit akibat kerja di sebagian besar negara bernilai 2,6% hingga 3,8% dari Produk Nasional Bruto (Gross National Product).


Menghitung untung dari keselamatan kerja


Secara prinsip, orang bekerja lebih baik ketika mereka secara fisik dan emosional mampu dan ingin bekerja. Kondisi tersebut akan menimbulkan produktivitas yang lebih tinggi dan tentu saja akan menghasilkan keuntungan yang lebih tinggi untuk perusahaan tempat mereka bekerja.

Program HSE berperan penting dalam menciptakan lingkaran kebaikan tersebut karena ia dapat meningkatkan performa fisik dan psikologis pekerja dan mengurangi ketidakhadiran, meningkatkan iklim organisasi (termasuk moral dan hubungan kerja), dan meningkatkan keinginan karyawan untuk bekerja lebih baik.

Sebuah studi mengenai perubahan tataletak ruangan kerja menunjukkan peningkatan produktivitas sebesar 1000% dalam waktu kurang dari 3 bulan dengan biaya hanya 5 ribu dollar US atau sekira 50 juta rupiah. Studi serupa di Rolls-Royce (perusahaan pembuat mesin pesawat terbang terbesar kedua), berhasil melakukan penghematan 11 juta pondsterling melalui kebijakan manajemen ketidakhadiran pekerja, dan mengurangi tingkat ketidakhadiran pekerja sebesar 15 persen di bawah rata-rata perusahaan lain. Selain itu juga sukses menurunkan ketidakhadiran akibat stres dari sekitar 20 persen menjadi 16 persen. Beberapa penelitian lain juga menunjukkan kaitan yang erat antara penerapan program keselamatan kerja dengan kualitas dan produktivitas kerja.

Dari beberapa fakta dan hasil studi di atas, sepertinya tidak bisa terbantahkan lagi jika “Good safety and health is good business.”

Bagaimana pendapat Anda?


-    Diolah dari berbagai sumber
-    Sumber gambar: http://www.alpineholdings.net/wp-content/uploads/immagine-aeroplano.jpg
-    Ditulis untuk http://lorco.co.id/

Friday, March 01, 2013

Saya, keselamatan, dan keluarga Superman






Saya suka Smallville, serial televisi yang mengisahkan masa muda Clark Kent (a.k.a Kal El alias Superman atau Superboy). Smallville adalah kota di mana Superman kecil ditemukan oleh Jonathan Kent dan Martha Kent ketika peristiwa hujan meteor. DI kota inilah Clark beranjak remaja dan bertemu dengan Lana Lang, Pete Ross, Chloe Sullivan, dan Lex Luthor serta mengalami berbagai kejadian yang sangat memengaruhi kehidupannya, sebelum pindah ke Metropolis untuk berkarier sebagai seorang jurnalis. Smallville bisa dibilang kawah candradimuka bagi Clark Kent untuk menjadi superhero yang bertugas menyelamatkan dunia dari bahaya dan kejahatan.


Keluarga Superman yang mengerti safety
Kisah keluarga Kent mengajarkan banyak hal, salahsatunya adalah perilaku safety dalam kehidupan sehari-harinya dan ini membekas kuat dalam memori otak saya.

Di sebuah episode, saya melihat pak Jonathan Kent sedang menggiling batang jagung menggunakan mesin dan di kepalanya terpasang earmuff untuk melindungi pendengarannya. Dalam episode lain, bu Martha Kent menggergaji bongkahan kayu dengan mengunakan APD (Alat Pelindung Diri) lengkap, berupa sarung tangan dan kacamata (safety goggles). Kemudian di tayangan episode lainnya, Clark Kent terlihat sedang memasang batang kayu ke tanah untuk dijadikan pagar dengan tangan kosong. Nah yang ini tidak perlu kita tiru, karena kita bukan Clark Kent yang punya kekuatan super.

Dari serial Smallville saya menangkap dua hal yang cukup menginspirasi saya sebagai praktisi komunikasi HSE (Health, Safety and Environment):
Pertama, budaya safety sudah tertanam kuat di masyarakat Amerika. Bahkan seorang petani jagung pun sudah akrab dan terbiasa bekerja sesuai prosedur keselamatan kerja. Jauh panggang dari api jika dibandingkan dengan petani di Indonesia, pernahkah Anda melihat pekerja pertanian Indonesia yang menggunakan earmuff saat menggiling padi?

Kedua, industri film di Amerika menerapkan safety secara tegas. Saya perhatikan, adegan di film menyesuaikan peraturan keselamatan yang berlaku, sepertinya si scriptwriter membaca referensi safety procedure untuk membuat skenarionya Selain itu, para pekerja film-nya pun mengerti dan mempraktekan safety first dalam bekerja. Satu lagi, sanksi yang tegas terhadap pelangaran peraturan keselamata kerja di industri film, seperti kasus kecelakaan yang terjadi saat pertunjukan Broadway “Spider-Man Turn Off the Dark.”


Belajar keselamatan dari keluarga Superman
Nah, itulah pelajaran yang saya dapatkan dari kisah Superman. Selain belajar bagaimana mengendalikan kekuatan yang kita miliki dengan baik dan bijak, saya juga belajar berperilaku safety di manapun dan kapan pun. Bagaimana dengan Anda?

-  Diolah dari berbagai sumber.
-  Sumber gambar: http://goo.gl/b60xE
-  Ditulis untuk http://lorco.co.id/


Monday, January 21, 2013

Awali dengan Rute Evakuasi






Senin pagi pukul 8.48,  di lantai 11 sebuah gedung perkantoran berlantai 23, Anda sedang membaca email laporan dari rekan Anda. Telepon di meja kerja Anda berdering, dari salah satu staff Anda yang memberitahukan meeting awal pekan yang akan segera dilaksanakan. Sebelas detik setelah Anda menutup telepon, terdengar alarm tanda darurat diikuti pengumuman melalui pengeras suara bahwa telah terjadi kebakaran di lantai 7 gedung kantor Anda dan seluruh penghuni diminta untuk segera melakukan evakuasi ke luar gedung. Lorong kantor penuh sesak oleh puluhan karyawan yang panik, berlarian menuju pintu lift. Asap mulai masuk ke lantai ruangan, sehingga nafas Anda semakin berat dan tiba-tiba pandangan menjadi gelap...

Tanpa berharap kisah di atas  benar-benar terjadi di kantor Anda, kebakaran atau keadaan darurat lainnya bisa terjadi di setiap gedung bertingkat. Selain karena panik, ketidaktahuan penghuni gedung bertingkat mengenai prosedur tanggap darurat akan menghambat proses penyelamatan. Salah satu faktor penting dalam prosedur tanggap darurat di gedung bertingkat yang harus dipahami oleh setiap penghuni adalah Rute Evakuasi.

Mengapa harus  mengerti Rute Evakuasi ?
Rute Evakuasi adalah jalur khusus yang menghubungkan semua area di dalam gedung ke area yang aman atau Titik Kumpul. Dengan mengetahui dan memahami Rute Evakuasi, Anda memiliki kesempatan selamat yang lebih besar saat terjadi keadaan darurat. Rute Evakuasi di gedung bertingkat terdiri dari rute menuju Tangga Darurat, Tangga Darurat, dan rute menuju Titik Kumpul di luar gedung.

Berapa jumlah Rute Evakuasi yang diperlukan?
Jumlah dan kapasitas Rute Evakuasi menyesuaikan dengan jumlah penghuni dan ukuran gedung. Kebutuhan Rute Evakuasi juga dipengaruhi oleh waktu rata-rata untuk mencapai Titik Kumpul. Sebagian besar ahli keselamatan menyarankan setiap gedung memiliki minimal 2 Rute Evakuasi, lebih banyak lebih baik.

Bagaimana desain Rute Evakuasi yang sesuai standar keselamatan?
Coba cek Rute Evakuasi di gedung kantor Anda, pastikan ia memenuhi beberapa persyaratan berikut ini:
  • Rute Evakuasi bersifat permanen, menyatu dengan bangunan gedung.
  • Rute Evakuasi harus memiliki akses langsung ke jalan atau ruang terbuka yang aman.
  • Rute Evakuasi dilengkapi Penanda yang jelas dan mudah terlihat.
  • Penanda dapat menyala di kegelapan (glow in the dark).
  • Rute Evakuasi dilengkapi penerangan yang cukup.
  • Rute Evakuasi bebas dari benda yang mudah terbakar atau benda yang dapat membahayakan.
  • Rute Evakuasi bersih dari orang atau barang yang dapat menghalangi gerak.
  • Rute Evakuasi tidak melewati ruang yang dapat dikunci.
  • Rute Evakuasi memiliki lebar minimal 71.1 cm dan tinggi langit-langit minimal 230 cm.
  • Pintu Darurat dapat dibuka ke luar, searah Rute Evakuasi menuju Titik Kumpul.
  • Pintu Darurat bisa dibuka dengan mudah, bahkan dalam keadaan panik.
  • Pintu Darurat dilengkapi dengan penutup pintu otomatis.
  • Pintu Darurat dicat dengan warna mencolok dan berbeda dengan bagian bangunan yang lain.
  • Tangga Darurat dirancang tahan api, minimal selama 1 jam.

Jika Anda menemukan kekurangan atau bahkan ketiadaan Rute Evakuasi, segera laporkan kepada pengelola gedung kantor Anda.

Awali dengan memahami Rute Evakuasi
Rute Evakuasi saja tentu belum cukup, masih banyak hal yang perlu kita siapkan untuk menghadapi kejadian darurat. Meski begitu, semoga dengan  mengenali dan memahami Rute Evakuasi bisa menjadi titik start bagi Anda untuk selalu waspada dan tanggap terhadap kejadian darurat di gedung bertingkat.


- Diolah dari berbagai sumber.
- Sumber gambar: http://www.pfsafety.com/store/image/cache/data/SF9033-500x500.jpg
- Ditulis untuk http://lorco.co.id/

Tuesday, March 22, 2011

Kopi vs Produktivitas Kerja






Bagi Anda yang sering bekerja di waktu shift malam, pasti akrab dengan minuman beraroma menyegarkan ini. Apalagi jika Anda seorang pekerja kreatif, kopi sangat identik dengan profesi yang mengharuskan banyak berimajinasi dan sering lembur tersebut. Kopi seolah menjadi obat mujarab untuk memunculkan ide dan semangat kerja. Tapi, ada 1 pertanyaan yang perlu Anda jawab dengan jujur, apakah benar dengan meminum kopi akan meningkatkan produktivitas kerja Anda?


Anda ingin lebih produktif? Jauhi kopi!

Pada tahun 2001, sebuah penelitian di Inggris menunjukkan bahwa kafein (zat yang terkandung pada kopi) dapat menurunkan produktivitas kerja karyawan. Penelitian ini berupa survei kepada 1.000 pekerja kantor untuk mengetahui jumlah kopi yang mereka minum sehari-hari kemudian efeknya tehadap suasana hati ,dan produktivitas kerja mereka.

Penjelasan atas hasil riset tersebut ialah kafein merupakan zat diuretik yang melancarkan proses pengeluaran air kencing dari ginjal. Hal ini akan membuat peminum kopi lebih sering mengunjungi toilet pada jam kerja. Menurut ahli gizi, tidak ada yang salah dengan minum tiga atau empat cangkir kopi siang hari, tetapi harus diimbangi dengan minum air dan jus buah untuk menghindari dehidrasi. Karena, tingkat dehidrasi 2 % saja dapat mempengaruhi konsentrasi dan membuat mudah marah.

Sebagai catatatan tambahan, studi ini dibiayai oleh Volvic Mineral Water, yang tentu saja memiliki kepentingan untuk mengurangi kebiasaan minum kopi atau minuman berkafein lainnya dan menggantinya dengan air mineral yang mereka pasarkan.


Terbukti! Kopi menambah semangat kerja!

Untuk para pecinta kopi, saya yakin bagian ini akan menjadi favorit Anda. Sebuah jajak pendapat pada tahun 2004 menunjukkan bahwa kopi meningkatkan produktivitas pekerja. Berikut ini angka hasil survei tersebut:
- 76% responden mengatakan bahwa minuman panas dapat membuat mereka merasa santai.
- 79% responden menyatakan bahwa minum kopi atau teh membuat mereka lebih produktif.
- 63% responden mengatakan bahwa layanan minuman panas (kopi atau teh) di kantor akan
   mempermudah mereka untuk segera kembali fokus bekerja, daripada harus keluar kantor untuk
   membeli di kedai kopi terdekat.
- 47% responden mengatakan bahwa mereka sangat menghargai layanan kopi gratis yang disediakan oleh     kantor.

Ada 3 alasan mengapa kopi dapat membantu meningkatkan kinerja Anda dalam pekerjaan:
1. Kopi meningkatkan kinerja mental Anda
Minum kopi tidak hanya membantu Anda tetap terjaga tapi juga meningkatkan kewaspadaan dan konsentrasi serta menunda kelelahan mental. Kopi juga meningkatkan memori jangka pendek Anda.
2. Meningkatkan daya tahan dan stamina dalam pekerjaan fisik
Kopi bisa mendorong mental Anda untuk menghindari kelelahan saat melakukan pekerjaan fisik. Hal ini akan menambah kemampuan kita untuk bekerja lebih keras dalam waktu lebih lama .
3. Meningkatkan aktivitas sosialisasi
Ya, minum kopi terbukti secara ilmiah dapat meningkatkan kemampuan Anda untuk bersosialisasi. Hal ini masuk akal karena minum kopi bisa mengurangi stres dengan menghilangkan hormon kortisol yang bertanggung jawab pada perilaku cepat marah dan gejala stress lainnya. Jika Anda sering nongkrong di kedai kopi (kafe) tentu dapat merasakan suasana kafe yang dapat membantu menghilangkan stres dan mendorong Anda bersosialisasi.


Kesimpulan Anda?

Nah, beberapa beberapa penelitian ternyata lebih mendukung kebiasaan minum kopi saat bekerja dan Anda para pencinta kopi pasti saat ini sedang tertawa gembira. Tapi, apapun hasil riset mengenai pengaruh kopi terhadap produktivitas kerja ini, kuncinya sebenarnya ada pada diri Anda masing-masing. Jika Anda harus bertugas di shift malam atau Anda seorang pekerja kreatif yang harus keluar dari “kotak” untuk mendapatkan ide-ide baru, tentu akan lebih produktif jika ada secangkir kopi di meja kerja Anda. Kesimpulannya ialah meminum kopi dalam batas tertentu dapat meningkatkan konsentrasi dan daya tahan semangat Anda yang akhirnya dapat meningkatkan produktivitas kerja.


Bagaimana menurut Anda?



- diolah dari berbagai sumber
- sumber gambar: http://www.coffeedetective.com/images/caffeine-the-divine-molecule-maybe-but-it- 
  has-an-odd-effect-on-people-and-small-dogs-21393911.jpg
- ditulis untuk http://lorco.co.id/

Friday, February 18, 2011

Apa cita-cita Anda hari ini?






Bagi saya, cita-cita itu dinamis, selalu tumbuh mengikuti peningkatan kualitas diri. Dulu jaman masih SD, saya bercita-cita menjadi seorang ahli ekonomi. Saya lupa, alasan apa yang membuat bocah belum akil baligh itu punya cita yang berbeda dengan kebanyakan anak seusianya. Mungkin, karena saya doyan melahap berita ekonomi nasional maupun dunia di harian Suara Merdeka, Kompas atau Republika untuk menemani sarapan sebelum saya berangkat sekolah.

Usia SMP, dengan semakin berkembangnya usia dan pelajaran hidup yang menjejali diri, saya memutuskan untuk mengubah cita-cita. Waktu itu menjelang Pemilu 1999, para tokoh politik berlomba menjajakan konsep perbaikan negeri ini. Saya sangat mengagumi salah satu di antaranya sehingga menginspirasi saya bercita-cita menjadi politisi. Sering saya membayangkan, suatu hari akan berorasi tentang demokrasi dan kesejahteraan negeri di panggung politik tanah air. Wow...hebat sekali impian anak usia 13 tahun bercelana pendek selutut itu.

Ketika sekolah di SMA, lagi-lagi saya harus mengubah cita-cita. Berawal dari membaca sebuah buku tentang arsitektur dan tata kota karya Prof. Eko Budihardjo (Rektor Undip saat itu), lentera jiwa saya lirih membisikkan: “Inilah masa depan saya.” Sejak itu, saya mulai menuliskan kata “arsitek” dalam kolom cita-cita di setiap lembar biodata yang harus saya lengkapi. Hingga suatu hari di tahun 2002 ketika ratusan ribu anak lulusan SMA sedang menantikan pengumuman UMPTN tahun itu, saya sedikit tak percaya bahwa Jurusan Arsitektur Undip sudi mengijinkan saya belajar di sana.

Ternyata, cita-cita menjadi seorang arsitek hanya bertahan 2 tahun dalam lembaran hidup saya. Semester ke-5, saya menemukan sebuah kata;“Copywriting” dan saya pun jatuh cinta. Saya mulai belajar bagaimana menulis secara kreatif sekaligus persuasif dan bisa menyampaikan pesan secara efektif serta efisien. Artikel dan ebook tentang bagaimana memasarkan dan menjual dengan kata-kata, menjadi santapan sehari-hari. Hingga saya mulai akrab dengan Periklanan (advertising), Permerekan (branding) dan Pemasaran (marketing), yang semakin meyakinkan saya untuk menjadi seorang Copywriter. Cita-cita itu masih bertahan hingga sekarang, ketika saya sedang merampungkan tulisan ini.

Setiap episode kehidupan adalah misteri, hingga kita selesai melaluinya. Kata Steve Jobs:” Hidup itu menghubungkan titik-titik, yang hanya bisa dilakukan dengan melihat apa yang sudah Anda jalani.” Hingga detik ini, saya masih bebas untuk memutuskan akan menjadi seperti apa di masa depan. Apapun itu, semoga bisa menjadi lentera jiwa dan menjadi manfaat untuk sesama.

Jadi, apa cita-cita Anda hari ini?


- Sumber gambar:  http://www.effective-time-management-strategies.com/images/goal_setting_forms.jpg

Monday, January 10, 2011

Pilih above the line atau below the line?







Hari Sabtu (25/12/10) kemarin, saya ngobrol dengan seorang pelaku usaha kecil menengah (UKM). Di tengah pembicaraan, dia bertanya ” Apa bedanya above the line dan below the line?” Meski sering membaca kedua istilah tersebut, tapi saya masih kesulitan menjelaskannya, khususnya untuk mendefinisikan “line” atau “garis” yang membatas above dan below. Kemudian dia bertanya lagi “Apakah konsep tersebut bisa digunakan dalam bisnis UKM?” dan semakin bingung lah saya.

Konsep above the line dan below the line dalam pemasaran

Istilah above the line dan below the line cukup popular di dunia pemasaran, tapi hingga saat ini belum ada definisi yang pasti untuk menjelaskan konsep tersebut. Salah satu pengertian yang pernah saya dapatkan, above the line meliputi seluruh aktivitas pemasaran yang ditayangkan di media massa (cetak, TV, radio, luar ruang), sedangkan below the line tanpa menggunakan media (pameran, sponsorship.)

Sumber lain mendefinisikan below the line ( BTL) sebagai aktifitas marketing atau promosi yang dilakukan di tingkat pengecer yang bertujuan merangkul konsumen supaya menggunakan atau membeli produk, contohnya : program diskon dan uji coba gratis. Di sisi lain, above the line ( ATL ) adalah aktifitas marketing/promosi yang biasanya dilakukan oleh manajemen pusat sebagai upaya membentuk brand image yang diinginkan, contohnya : iklan di Televisi dengan berbagai versi.

Sebenarnya, istilah “line” (garis) dalam ATL dan BTL itu berawal dari kategorisasi dalam pencatatan keuangan. Kategori pertama berlaku bagi kegiatan pemasaran yang kena komisi biro iklan. Ini dimasukkan dalam biaya penjualan (cost of sales) yang akan menetukan laba kotor (gross profit.) Kategori kedua untuk kegiatan pemasaran non iklan yang tidak kena komisi. Biayanya dimasukkan dalam biaya operasional yang menentukan laba bersih (net profit.) Kedua jenis budget tersebut dipisahkan dengan sebuah garis (line.) Yang mengandung unsur komisi, ditulis di bagian atas neraca, disebut sebagai above the line. Sisanya, dijadikan satu di bawah garis tadi, disebut kelompok below the line.

Menerapkan strategi ATL dan BTL

Di luar beragamnya pengertian above the line dan below the line, konsep tersebut bisa diterapkan oleh UKM dalam bentuk yang lain. Untuk aktivitas ATL, dijalankan untuk membangun brand, sedangkan aktivitas BTL digunakan dalam program penjualan. Kegiatan membangun brand bisa dijalankan berselaras dengan kegiatan penjualan, kedua aktivitas tersebut bisa saling mendukung, untuk mencapai tujuan yang kita inginkan.

Program membangun brand penting untuk menciptakan awareness, sehingga calon konsumen mengetahui produk kita dan akan membelinya. Setelah konsumen membeli produk, selanjutnya ialah merawat hubungan dengan konsumen supaya ia merasa nyaman dan semakin yakin menggunakan produk dan akan melakukan pembelian ulang di masa depan. Kegiatan yang bisa dilakukan antara lain: menjadi memasang iklan di koran atau menjadi sponsor di acara TV lokal.

Program penjualan dilakukan untuk memastikan calon konsumen membeli produk yang sudah dia ketahui (melalui kegiatan membangun merek.) Kadang, konsumen tidak langsung melakukan pembelian meski dia sudah mengetahui produk. Karena itu, perlu program penjualan untuk memicu pembelian produk oleh konsumen. Untuk program penjualan, pebisnis UKM bisa melakukan kegiatan seperti membagi voucher ke calon konsumen potensial atau membuat program diskon di toko.

Bagaimana menurut Anda?

- Diolah dari berbagai sumber
- Sumber gambar: http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSYBJCrs4rej0EdC3z80OV4gjcol-0btBWNzUwTYQbF6cPQTIp4
- Ditulis untuk http://creasionbrand.blogspot.com/

Sunday, December 19, 2010

Strategi Bisnis UKM: Menyelaraskan Branding dengan Penjualan







Hari Senin (29/11/10) yang lalu, saya berkesempatan melakukan pendampingan ke beberapa UKM Bordir Kota Tasikmalaya, Jawa Barat. Ada 3 UKM yang saya kunjungi dan sempat bertukar pikiran dengan pemiliknya, dan ketiganya memiliki permasalahan bisnis yang berbeda. UKM pertama, memilki keunggulan volume produksi yang besaar, sekitar 300 kodi per bulan, tapi sebagian dijual tanpa merek ke pedagang perantara. Skema penjualan seperti itu akan meminimalkan margin keuntungan produsen, dan lebih besar untuk pedagang. Tapi, produsen menganggap hal itu tidak jadi masalah, dengan alasan berbagi rejeki. Bagi saya pribadi, sebuah alasan tersebut tidaklah salah, tapi mungkin kurang tepat.

UKM bordir kedua yang saya kunjungi, memilki konsep ekslusif untuk produk bordir yang dihasilkannya. Selain memproduksi bordir, pengusaha ini memilki butik di salah satu pusat perbelanjaan di kota Taskmalaya untuk menjual produknya. Melihat bentuk, tampilan dan harga produk, memang menyasar ke kalangan menengah ke atas. UKM terakhir yang saya kunjungi juga memiliki toko sebagai showroom produk bordirnya. Dari hasil ngobrol, ternyata keberadaan toko tidak terlalu berperan dalam penjualan produknya, karena sebagian besar penjualan berupa pesanan dari luar kota.

Penjualan vs Branding
Satu hal serupa yang saya temukan dari Ketiga UKM Bordir tersebut di atas yaitu minimnya pemahaman tentang strategi branding atau merek. Semuanya sudah memiliki merek, tapi masih memandangnya sekadar label belaka, bukan sebagai bagian dari strategi pemasaran. Kegiatan branding memang dikenal sebagai sumber biaya (cost center) bukan sumber laba (profit center), sehingga keberadaannya kurang diindahkan oleh pengusaha UKM.
Dengan kondisi UKM yang masih terbatas baik secara secara modal, jumlah produksi maupun SDM, manakah yang lebih tepat, lebih banyak melakukan aktivitas penjualan ataukah membangun merek? Komprominya ialah lakukan penjualan secara eceran untuk membangun merek dan mulailah menjual ke pasar B2B (bisnis ke bisnis) untuk mendapatkan penjualan yang lebih besar. Kedua aktivitas ini idealnya dilaksanakan secara beriringan, bukan saling mengalahkan. Pasar bisnis ke bisnis, lebih menghasilkan volume penjualan besar tapi dengan keuntungan tipis. Sementara, penjualan eceran akan memberikan keuntungan yang lebih besar serta memungkinkan pembangunan merek produk.

Branding sebagai investasi jangka panjang
Membangun brand adalah sebuah proses yang membutuhkan waktu cukup lama dan biasanya melalui enam tahap sebelum memungkinkan terjadinya penjualan berkesinambungan:
1. Tahap pengenalan (aware)
2. Tahap mengerti benefit atau positioning (understand)
3. Tahap meyakinkan bahwa produk lebih baik dari pesaing (preference)
4. Tahap membangkitkan semangat mencoba, membeli secepatnya (convince)
5. Tahap terciptanya penjualan (action/selling)
6. Tahap pembelian kembali (repeat)

Jika pengusaha UKM memandang secara jangka pendek, tentu saja branding bukan pilihan yang populer. Tapi, untuk jangka panjang, pengusaha UKM akan mendapatkan banyak keuntungan dari aktivitas branding. Jadi, aktivitas berbasis penjualan dan kegiatan untuk branding, sebaiknya bisa berjalan beriringan dan saling menguatkan.
Bagaimana menurut Anda?


- Sumber gambar: http://blog.sribu.com/wp-content/uploads/2013/01/online-marketing-2-300x209.jpg
- Ditulis untuk http://creasionbrand.blogspot.com/

Monday, April 12, 2010

MIX Agency of The Year 2010: Kreativitas dan Efektivitas Semakin Padu

JWT Indonesia mencatatkan diri sebagai Best of The Best Advertising Agency atau Biro Iklan Terbaik di ajang MIX Agency of The Year tahun ini. Dari survei kepada pengguna jasa biro iklan (marketer) yang digelar oleh majalah MIX, biro iklan multinasional tersebut unggul dalam Efektivitas Strategi, Target Market Insight, Industry Insight, Value for Money dan Reputasi.

Raihan biro iklan yang dipimpin oleh Lulut Asmoro ini, semakin membuktikan semakin padunya kreativitas dan efektivitas dalam dunia periklanan. Karena, selain meraih gelar MIX Advertising Agency of The Year 2010, JWT adalah jawara Citra Pariwara 3 tahun berturut-turut (The Best Agency tahun 2007-2009). Koleksi Silver Asia Pacific Ad-Fest'09 dan Silver Cannes'08, juga membuktikan kehebatan JWT secara kreativitas, karena baik Citra Pariwara, AP-Adfest maupun Cannes, lebih menitikberatkan sisi kreatif dalam penilaiannya.

Di posisi runner-up, biro iklan lokal Matari masih menunjukkan kekuatannya di pentas industri periklanan tanah air. Perusahaan yang didirikan oleh Ken Sudarto pada 30 Januari 1971 ini, menjadi The Best Creative pada gelaran penghargaan untuk para agency di bidang marketing communication berdasarkan pilihan para marketer ini. Merujuk citarasa lokalnya, Matari mengklaim sebagai biro iklan yang paling memahami pasar dan konsumen Indonesia. Selain menjadi runner-up di ajang MIX Advertising Agency of The Year 2010, Matari pernah meraih penghargaan finalis CLIO Award-anugerah periklanan paling bergengsi di seluruh dunia.

Semakin 'akur'-nya aspek kreatif dan efektif dalam periklanan, juga bisa dilihat dari biro iklan di posisi ke-3 Advertising Agency of The Year 2010, Ogilvy. Biro iklan yang menyandang nama besar David Ogilvy-salah satu tokoh besar periklanan dunia ini, menggunakan formula Twin Peak dalam mengangani proyek-proyek iklannya. Prinsip kerja Twin Peak ialah terbaik dalam menghasilkan kreativitas sekaligus efektivitas, dan hal ini dibuktikan oleh klien-klien Ogilvy, salah satunya Unilever, yang mempercayakan 15 brand-nya kepada biro iklan multinasional ini.

Nah, dari cerita di balik kemenangan 3 besar The Best Advertising Agency of the Year 2010 tadi, semakin mendekatkan 'jarak' antara 'iklan kreatif' dan 'iklan efektif' yang menjadi perdebatan abadi para praktisi periklanan. Iklan tidak bisa diukur dengan parameter kreativitas saja, tapi juga bisa diukur secara kuantitatif. Selain kemasan yang kreatif, iklan juga harus bisa memenuhi tujuan dan sasaran komunikasi pemasaran, salah satunya untuk meningkatkan penjualan produk. Mungkin benar apa yang pernah dilontarkan oleh David Ogilvy, bahwa “If it doesn't sell, it isn't creative.”

Bagaimana menurut Anda?


- sumber: Majalah MIX edisi April 2010

Tuesday, January 19, 2010

Indomie (mungkin) Seleraku...






Mie instant, siapa sih yang tidak mengenal produk Fast Moving Consumer Goods (FMCG) yang satu ini. Kalaupun ada yang tetap ngeyel tidak kenal, saya yakin itu hanya soal penyebutan saja. Barangkali dia lebih mengenal "indomi" untuk menyebut produk mie siap saji itu.
Bicara soal sebutan bagi produk mie instant, di masa kecil saya dulu, justru kata "sarimi" lebih populer. Saat itu, saya biasa menggunakan istilah "sarimi" untuk menyebut "mie instant". Saya kurang tau bagaimana kebiasaan itu terbentuk, mungkin karena saya termasuk segmen SES C-D alias golongan ekonomi menengah ke bawah, yang sepertinya menjadi target utama lini merek Sarimi. Sedangkan Supermi dan Indomie, ditujukan bagi segmen menengah ke atas, sehingga dibandrol harga lebih tinggi dengan kualitas lebih baik tentunya. Saat itu pun, iklan Sarimi sering tayang di tv. Saya masih ingat jingle-nya: "Sarimi...dari aromanya terbayang kelezatannya" (CMIIW...).
Sebenarnya, saya kurang suka dengan mie instant. Kadang, rasa bumbunya benar-benar memuakkan, hingga merusak indra perasa di lidah saya. Tapi, saya harus berkompromi dengan hal itu ketika saya melanjutkan SMA di Purwokerto yang cukup jauh dari rumah. Karenanya, saya harus kost untuk mendukung aktivitas sekolah. Nah, bukankah anak kost itu identik dengan mie instant? Dan saya menjawab iya...
Dari sekian merek mie instant yang tersedia di pasaran, saya lebih suka Indomie. Dan menurut saya, Indomie Goreng paling enak dibanding varian Indomie lainnya. Satu lagi yang pernah jadi favorit saya ialah Indomie Rasa Nusantara. Waktu itu, saya sampai terobsesi mencoba seluruh pilihan rasanya.
Kebiasaan makan mie instant, berlanjut di masa kuliah. Sekali lagi, karena saya mesti jadi anak kost. Kali ini, bahkan lebih jauh dari rumah, tepatnya di Semarang. Hasilnya, mie instant masih lekat dengan kehidupan saya. Apalagi, di sekitar kampus bertebaran warung indomie (biasanya juga menyediakan bubur kacang hijau dan kebanyakan penjualnya orang Sunda). Dan Indomie tetap jadi pilihan pertama saya.
Tahun 2003, Mie Sedap menyerbu pasar mie instant nusantara. Merek keluaran Wings Group ini beriklan begitu gencar di media massa, terutama di televisi. Begitu juga dengan promo sampling (coba gratis) di pusat keramaian. Dengan tekstur mie lebih kenyal dan rasa lebih sedap (sesuai dengan namanya), Mie Sedap mendapat respon bagus dari penikmat mie instant, termasuk saya. Dengan dukungan jalur distribusi yang kuat, Mie Sedap sukses meraih posisi runner up, di bawah merek Indomie.
Kini, Indomie masih jadi yang pertama di pasar mie instant tanah air. Meski sempat digempur oleh Mie Sedap, Indomie belum tergoyahkan. Merek milik grup Indofood ini, menguasai 69,6% pangsa pasar mie instant dalam negeri* dan Mie Sedap membuntuti dengan penguasaan 23%. Sisanya, diperebutkan oleh 8 merek lain (termasuk Supermi, Sarimi dan Popmie, yang juga keluaran Indofood).
Indofood Sukses Makmur pemilik merek Indomie, tentunya mempunyai strategi untuk mempertahankan kekuasaannya. Sebagai pemimpin pasar, perusahaan ini memiliki keunggulan secara total, dari produksi hingga distribusi. Selain itu, Indofood juga memiliki merek Supermi, Sarimi dan Sakura, yang bisa digunakan jadi tameng menghadapi pesaing-pesaing Indomie. Kemudian, Indomie juga sangat kuat secara merek dan selalu berusaha memperkuat nilai mereknya. Hal ini, bisa kita liat dari iklan-iklan televisinya yang lebih banyak untuk pencitraan dan tidak terlalu menonjolkan rasa produk atau harga. Indomie juga menyelenggarakan event untuk membangun sekaligus meremajakan merek Indomie, seperti Indomie Jingle Dare yang menyasar audience anak SMA.
Setiap merek, sudah seharusnya peka dengan perubahan pasar. Situasi dan kondisi pasar, tidak selalu sama. Salahsatunya ialah usia konsumen yang selalu bertambah. Pun dengan pola pikir dan pandangan mereka, termasuk dalam memilih merek suatu produk. Kemudian, munculnya konsumen usia muda, sudah pasti perlu pendekatan khusus untuk mengkomunikasikan merek ke mereka. Dan menurut saya, Indomie sukses merawat mereknya sehingga hari ini masih kokoh di puncak pasar mie instant dan berhasil membuat jutaan orang Indonesia berkata: Indomie... Seleraku...
Bagaimana menurut Anda?


* hasil riset Mars di 7 kota besar di Indonesia (Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, Semarang, Makassar dan Denpasar) tahun 2008.

- terinspirasi iklan terbaru Indomie (versi ganti kemasan)
- Sumber gambar: http://behance.vo.llnwd.net/profiles10/334599/projects/2074748/d9acb14d44ea0f121189ceb2b94d3d2f.jpg












Friday, October 30, 2009

Carlos Moncayo, Makelar Pakaian Peraih Asia's Best Young Entrepreneur 2009


Makelar, bisa dibilang itu pekerjaan yang dilakoninya. Bukan sekedar makelar siy, karena dia harus mengerjakan banyak hal, mulai dari menyeleksi pabrik pemasok pakaian di China, menangani pra-produksi dan mengawasi proses produksi sekaligus pengiriman barang sampai di tangan pemesannya di kawasan Amerika Selatan. Inilah yang mengantarkannya menjadi Best Asia’s Young Enterpreneur, tahun ini.

Lahir dan besar di Ekuador, hingga menyelesaikan kuliah hukum di Pontifical University Quito, Carlos Moncayo (28 tahun) melanjutkan kuliah di Willamette University Law School, USA. Karena tertarik dengan hukum China, dia mengambil program beasiswa di Shanghai selama 2 bulan. Tanpa ada kemampuan berbahasa Mandarin sedikitpun, dan hanya berbekal uang $400 serta mimpi besar, Moncayo pun menapakkan kakinya di China.

Berawal dari magang di firma hukum Lehman, Lee & Xu, dan menangani beberapa klien dari Amerika Selatan yang menjalankan bisnis di China, Monsayo menemukan peluang bisnis. Kebanyakan kasus yang ditanganinya berkaitan perusahaan menengah yang kesulitan menangani proses ekspor-impor. Setelah berdikusi dengan dua saudaranya, Fernando dan Luis, Monsayo mewujudkan idenya. Bulan Agustus 2004, mereka mendirikan ASIAM, yang bertujuan menjembatani pembeli dan pemasok, serta mengurangi hambatan perbedaan lokasi dan budaya untuk keamanan dan kemudahan transaksi internasional.

Tahun 2008, ASIAM berhasil mendapatkan pesanan senilai $29 juta, dan selama 5 tahun terakhir, meraih pertumbuhan 112% serta melayani 70 klien yang mengimpor pakaian dari 300 pabrikan RRC. Karena klien-klien ASIAM berasal dari Meksiko, Spanyol, Guatemala, Panama, Kolombia, Peru, Ekuador, dan Argentina, Moncayo harus membagi waktunya di antara China dan Amerika Selatan. Meski begitu, Moncayo masih menyempatkan waktu untuk meningkatkan kompetensinya. Desember ini, dia akan mendapat gelar diploma di bidang manajemen dari Shanghai's China Europe International Business School.

Sumber: BusinessWeek

Wednesday, October 28, 2009

The Fun Theory, karena berbuat baik itu (sebenarnya) menyenangkan…







Siapa siy, orang yang ga pengin berbuat baik? Dan saya yakin, setiap manusia, sejahat apapun dia, masih memiliki setitik kebaikan dalam dirinya. Tapi, karena berbagai alasan, sering kita membuang sia-sia kesempatan berbuat baik. Bisa karena malas, tidak mau repot, enggan dikomentari macam-macam atau paling parah, karena tabiat jahat begitu mendominasi diri kita (na’udzubillahi min dzalik…).

Berbuat baik bukanlah hal yang sulit, karena ia bisa kita lakukan secara sederhana mulai dari hal terkecil. Membuang sampah di tempat yang sudah disediakan, bukan pekerjaan yang berat, bukan? Memberikan tempat duduk kepada yang lebih membutuhkan di kendaraan umum, akankah menyulitkan kita? Atau makan dan minum dengan duduk menggunakan tangan kanan, seberapa susah siy untuk melakukannya?

Nah, bagaimana jadinya, jika berbuat baik bisa menjadi kegiatan yang menyenangkan? Apakah orang-orang akan berlomba-lomba untuk melakukan kebaikan? Itulah yang dilakukan VolksWagen, dengan meluncurkan kampanye Fun Theory untuk menciptakan kebiasaan baik sekaligus menyenangkan. Apakah cara ini berhasil? Sila Anda simak video kampanye Fun Theory di website-nya…

Selamat berbuat baik sekaligus menyenangkan, Kawan…


- Sumber gambar: http://www.fierceselling.com/wp-content/uploads/2010/07/Volkswagen-The-Fun-Theory.jpg

Saturday, March 21, 2009

Kopdar milis CCI: The Next Rising Star, sikap hidup kreatif, David Droga, dan jangan pernah mengeluh!

Jam setengah delapan malam Rabu sore itu, akhirnya saya sampai di halte busway Harmoni, ketemu dengan Roy, teman kampus yang sekarang tinggal di Jakarta. Kita berdua beruntung mendapatkan tiket gratis acara kopi darat ulang tahun ke-7 milis Creative Circle Indonesia (CCI), milisnya praktisi iklan (termasuk mahasiswa dan orang biasa yang mencintai periklanan) se-Indonesia, yang kami tergabung di dalamnya. Lumayan lah, bisa dapet tiket seharga 150 ribu rupiah itu. He3…

Setengah jam menelusuri jalanan Jakarta, saya sampai di Menara Jamsostek, Gatot Subroto. Masuk ke venue, acara belum dimulai, jadi saya masih sempat makan malam (mumpung gratis, euy). Jam setengah sembilanan, acara inti pun digelar, talkshow dengan tema “The Next Advertising Rising Star”. Dipandu om Daniel Rembeth, moderator milis CCI, yang CEO The Jakarta Post.

Pembicara pertama, om Budiman Hakim, Creative Director Macs 909 sekaligus penggagas milis CCI ini. “ Jadikan kreatif sebagai sikap hidup kamu, apapun yang kamu lakukan”, itu yang bisa saya tangkap dari pembicaraan Beliau. Bahkan, seorang ibu yang bisa mengatur uang belanja pemberian suaminya yang hanya 400 ribu untuk makan sekeluarga sebulan, ia adalah seorang kreatif luar biasa.

Giliran ke-2, tampil om Amrie Z. Noer, alumnus Teknik Arsitektur ITB yang terjun ke dunia iklan (Chairman Mad Communications). Pesan Beliau yang terekam di benak saya adalah: “Anda berada di jalur yang tepat!” Kenapa? karena era ekonomi kreatif segera hadir di depan mata kita. Di Indonesia, industri kreatif ( periklanan masuk di dalamnya) menyumbang 7 % dari GDP. Om Amrie juga bercerita tentang David Droga, salah satu ikon periklanan dunia dengan segudang prestasinya. Seorang creative director ketika usianya baru 21 tahun, mengoleksi 40 Cannes Lions, 12 D&AD Awards, termasuk dalam 40 Most Influential People in Europe under the age of 40 versi Media Magazine 2001.

Ivan Hadiwibowo, Executive Creative Director JWT, tampil sebagai pembicara ketiga. Profesional muda ini, menjelaskan tentang 16 Habits Creative People, yang dulu pernah diposting om Budiman Hakim di milis CCI. “Kreatif adalah dibentuk dengan kebiasaan, bukan sekedar bakat” itu yang saya ingat dari pembicaraannya.

Pembicara ke-4, Glenn Marsalim, seorang creative freelancer. Bagi dia, setiap orang bisa jadi rising star untuk orang lain, dan itu tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun. Iim Fahima adalah rising star bagi Glenn, karena ada ikatan emosional di antara mereka. Tapi, bahkan seorang David Droga pun bukanlah seorang rising star di mata Glenn, karena tiadanya ikatan personal di antara keduanya.

Di bagian akhir, tampil mba Iim Fahima, owner Virus Communication ( saya pernah tes copywriter di biro iklan tsb), menjelaskan tentang iklan online yang menjadi bidang usahanya. Era digital, memungkinkan semua orang menjadi the next rising star. Dan tren yang terjadi, banyak anak muda yang expert di bidang IT, ujung-ujungnya akan muncul seagai seorang entrepreneur dengan mendirikan usahanya sendiri. Dan ketika anak muda tersebut bertemu orang yang hebat di marketing, pasti memunculkan revolusi dalam dunia online. Seperti fenomena kesuksesan facebook dan wordpress. Dan satu hal yang perlu dicamkan oleh mereka yang sedang dalam proses menjadi the next rising star: “Jangan pernah mengeluh!”

Jam 22.30, saya cukupkan berada di acara itu. Kayaknya ada acara lanjutan yang tidak perlu saya ikuti, bahkan wajib saya tinggalkan. Sudah banyak “suplemen” yang bisa saya reguk dari acara tersebut. Saatnya pulang ke kost teman saya, istirahat untuk mempersiapkan perjalanan pulang esok hari.

Monday, March 16, 2009

Me Undercover: 7 Hal Baru dalam Kehidupan Saya

Tanggal 15 Maret ini, genap 3 bulan sejak postingan terakhir saya di blog ini. Ya, cukup lama juga saya terkena sindrom “writer’s block” di awal karir kepenulisan yang masih pemula banget ini. He3…

Ternyata, 3 bulan terakhir ini banyak perubahan di dunia ini dan saya bersyukur terjadi pada sebagian diri dan kehidupan saya juga. Perubahan yang semoga bisa menempa diri ini menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Apa saja yang tercatat dalam ingatan saya selama menghilang dari dunia per-blog-an itu?
1. Saya mulai menjalani kehidupan usia 24 tahun, sebuah usia yang layak untuk menjadikan saya lebih dewasa. Ehm…meski berat, saya harus terus mencoba menggenapkannya.
2. Kehilangan seorang wanita yang sangat saya cintai dan sayangi. Ya, ibu saya meninggal di usianya yang ke-55 tahun, melalui skenario serangan stroke mendadak di pagi hari tanggal 29 Desember 2008. Saya yakin, Allah Maha Agung dalam mengatur seluruh lakon kehidupan makhluk-Nya.
3. Majalah Cakram ( tentang periklanan ) sudah tidak terbit lagi, sedikit mengurangi bahan bacaan saya ketika numpang baca di Gramedia. Mungkin saya perlu mencari majalah baru sebagai penggantinya. Ada rekomendasi, Teman?
4. Menemukan kembali beberapa teman lama saya, dan beraktivitas bersama mereka. Mungkin sudah tidakseindah dulu, tapi saya bersyukur bisa menemukan keindahan baru yang lebih mempesona.
5. Mulai keranjingan posting di sebuah milis, dan berusaha menghidupkan milis tersebut dengan tulisan yang menarik dan menginspirasi.
6. Morange, aplikasi ponsel andalan saya, mulai kehilangan daya tariknya. Pushmail-nya sudah ga berfungsi lagi, chat mending pake eBuddy, teman-teman moranger saya juga banyak yang menghilang.
7. Berusaha lebih fokus menjalani kehidupan, menyusun ulang skala prioritas rencana hidup yang pernah saya buat dan segera melangkahkan kaki untuk mewujudkannya.

Trus, apalagi ya? Kayaknya, cukup 7 hal di atas yang layak saya share di ruang ini. Yang lainnya, off the record saja. Dan saya senang bisa mulai menulis lagi…

Monday, December 15, 2008

Menuju deadline...

Hari ini, genap 24 tahun usia saya. Waktu semakin dekat menuju deadline-deadline pencapaian hidup yang saya rencanakan. Semoga langkah ini lebih terarah, dan pandangan selalu ke depan. Cita-cita, hanya itu modal paling berharga yang saya punya.

Friday, December 05, 2008

Bertemu mereka...

Pertama, dengan seorang insan periklanan yang selama ini saya baca buah pikirnya di milis atau blognya dia. Dulu, wanita ini pernah malang melintang sebagai copywriter di Metro Publicist, McCann Erickson dan Matari. Kini, menjadi seorang enterpreneur dengan mendirikan biro iklan online bernama Virus Communications.

Kedua, bisa melihat (sekilas) sosok seorang praktisi media online yang berpengalaman menangani lebih dari 100 website di Indonesia. Pernah menangani Detik.com sebagai Marketing Director, saat ini beliau menjabat Presdir Virtual Consulting.

Dan yang ke-3, saya belajar menerjemahkan brief bersama Creative Director-nya Virus ini. Sosok muda nan energik, lulusan Graphic Design & Multimedia dari KvB North Sidney Australia. Pernah berkarya di Matari, Lowe Singapore dan JWT, yang menghasilkan beberapa medali di Citra Pariwara dan ADOI Award. Anda bisa menebak siapa mereka?

Wednesday, November 19, 2008

Pushmail Morange bermasalah?

Sejak saya menggunakan Morange, kirim posting blog cukup dari ponsel. Tapi, kemarin terjadi hal yang tidak saya inginkan. Postingan saya tentang social networking, tidak tampil sebagaimana seharusnya. Selain hanya menampilkan sebagian isi postingan, di bagian bawah tercantum signature promosinya Morange. Apakah Morange sudah tidak bisa saya gunakan untuk posting blog?

Tuesday, November 18, 2008

Belajar berjejaring sosial

Jejaring sosial alias social networking, bukan hal baru di dunia internet. Saya pun sudah mengenalnya 4 tahun lalu, namanya Friendster. Saat itu, saya join hanya untuk ikut mencicipi tren yang melanda, jadilah, ia 'mainan baru' yang tercampakkan.

Kini, saya kembali join situs jejaring sosial, tidak hanya 1 tapi 4 sekaligus.

1. Blogger
Nge-blog 

2. Facebook
Berjejaring sosial kurang lengkap tanpa bergabung di situs ini. Facebbok (http://facebook.com/)  merupakan layanan terpopuler untuk. Sila add akun saya di http://www.facebook.com/afiyan

3. Twitter
Layanan ini dikenal sebagai microblogging atau blog mini. Tidak seperti blog yang bisa memuat tulisana dalam panjang tak terhingga, twittter (http://twitter.com/) hanya menyediakan 140 karakter untuk Anda olah nebjadi tulisan. Kalau sudah punya akun twitter, jangan lupa follow @cre_afee ya...

4. LinkedIn
Situs jejaring sosial ini fungsinya mirip facebook, bedanya LinkedIn (http://linkedin.com/) fokus ke hubungan karier dan pekerjaan. . Mari berkoneksi (id.linkedin.com/in/afiyan/)


Kali ini, untuk lebih menggali manfaat berjejaring sosial. Apalagi, melihat kemenangan Barrack Obama, yang didukung kampanye online menggunakan situs-situs jejaring sosialnya. Bagaimana dengan Anda?

Tuesday, October 28, 2008

Papan reklame interaktif?

Ya, kuranglebih seperti itu. Sampai tanggal 26 Oktober kemarin, di ujung jalan Asia-Afrika Jakarta Selatan, terpasang sebuah billboard. Uniknya, papan reklame ini menampilkan video yang bisa direquest oleh audiens di sekitarnya menggunakan sms premium. Nama dan nomer telepon pengirim sms juga ikut ditayangkan, dengan menghilangkan 4 digit paling belakang.

Mungkin, ini akan menjadi pemicu inovasi media digital interaktif lainnya. Dan semoga Anda salah satu pemainnya.

Sumber: http://media-ide.bajingloncat.com/2008/10/21/mengirim-sms-tampil-di-billboard/

Tuesday, October 14, 2008

Shar-E, Easy.Everywhere.Extraordinary

Ternyata benar, ia memudahkan. Paling tidak, dari pengalaman pertama saya menggunakannya, Senin kemarin.
Transfer ke rekening Muamalat seorang teman, via atm BRI (satu-satunya atm dekat rumah).

Strategi jitu bermitra dengan PT.Pos Indonesia (Persero), semakin memudahkan masyarakat, dengan keberadaan kantor pos di seluruh pelosok Indonesia. Hal ini, semakin mengurangi status 'darurat' menggunakan bank konvensional.

Selanjutnya, tugas berat Bank Muamalat untuk konsisten dengan prinsip syari'ah dan terus meningkatkan layanannya.