Monday, January 21, 2013

Awali dengan Rute Evakuasi






Senin pagi pukul 8.48,  di lantai 11 sebuah gedung perkantoran berlantai 23, Anda sedang membaca email laporan dari rekan Anda. Telepon di meja kerja Anda berdering, dari salah satu staff Anda yang memberitahukan meeting awal pekan yang akan segera dilaksanakan. Sebelas detik setelah Anda menutup telepon, terdengar alarm tanda darurat diikuti pengumuman melalui pengeras suara bahwa telah terjadi kebakaran di lantai 7 gedung kantor Anda dan seluruh penghuni diminta untuk segera melakukan evakuasi ke luar gedung. Lorong kantor penuh sesak oleh puluhan karyawan yang panik, berlarian menuju pintu lift. Asap mulai masuk ke lantai ruangan, sehingga nafas Anda semakin berat dan tiba-tiba pandangan menjadi gelap...

Tanpa berharap kisah di atas  benar-benar terjadi di kantor Anda, kebakaran atau keadaan darurat lainnya bisa terjadi di setiap gedung bertingkat. Selain karena panik, ketidaktahuan penghuni gedung bertingkat mengenai prosedur tanggap darurat akan menghambat proses penyelamatan. Salah satu faktor penting dalam prosedur tanggap darurat di gedung bertingkat yang harus dipahami oleh setiap penghuni adalah Rute Evakuasi.

Mengapa harus  mengerti Rute Evakuasi ?
Rute Evakuasi adalah jalur khusus yang menghubungkan semua area di dalam gedung ke area yang aman atau Titik Kumpul. Dengan mengetahui dan memahami Rute Evakuasi, Anda memiliki kesempatan selamat yang lebih besar saat terjadi keadaan darurat. Rute Evakuasi di gedung bertingkat terdiri dari rute menuju Tangga Darurat, Tangga Darurat, dan rute menuju Titik Kumpul di luar gedung.

Berapa jumlah Rute Evakuasi yang diperlukan?
Jumlah dan kapasitas Rute Evakuasi menyesuaikan dengan jumlah penghuni dan ukuran gedung. Kebutuhan Rute Evakuasi juga dipengaruhi oleh waktu rata-rata untuk mencapai Titik Kumpul. Sebagian besar ahli keselamatan menyarankan setiap gedung memiliki minimal 2 Rute Evakuasi, lebih banyak lebih baik.

Bagaimana desain Rute Evakuasi yang sesuai standar keselamatan?
Coba cek Rute Evakuasi di gedung kantor Anda, pastikan ia memenuhi beberapa persyaratan berikut ini:
  • Rute Evakuasi bersifat permanen, menyatu dengan bangunan gedung.
  • Rute Evakuasi harus memiliki akses langsung ke jalan atau ruang terbuka yang aman.
  • Rute Evakuasi dilengkapi Penanda yang jelas dan mudah terlihat.
  • Penanda dapat menyala di kegelapan (glow in the dark).
  • Rute Evakuasi dilengkapi penerangan yang cukup.
  • Rute Evakuasi bebas dari benda yang mudah terbakar atau benda yang dapat membahayakan.
  • Rute Evakuasi bersih dari orang atau barang yang dapat menghalangi gerak.
  • Rute Evakuasi tidak melewati ruang yang dapat dikunci.
  • Rute Evakuasi memiliki lebar minimal 71.1 cm dan tinggi langit-langit minimal 230 cm.
  • Pintu Darurat dapat dibuka ke luar, searah Rute Evakuasi menuju Titik Kumpul.
  • Pintu Darurat bisa dibuka dengan mudah, bahkan dalam keadaan panik.
  • Pintu Darurat dilengkapi dengan penutup pintu otomatis.
  • Pintu Darurat dicat dengan warna mencolok dan berbeda dengan bagian bangunan yang lain.
  • Tangga Darurat dirancang tahan api, minimal selama 1 jam.

Jika Anda menemukan kekurangan atau bahkan ketiadaan Rute Evakuasi, segera laporkan kepada pengelola gedung kantor Anda.

Awali dengan memahami Rute Evakuasi
Rute Evakuasi saja tentu belum cukup, masih banyak hal yang perlu kita siapkan untuk menghadapi kejadian darurat. Meski begitu, semoga dengan  mengenali dan memahami Rute Evakuasi bisa menjadi titik start bagi Anda untuk selalu waspada dan tanggap terhadap kejadian darurat di gedung bertingkat.


- Diolah dari berbagai sumber.
- Sumber gambar: http://www.pfsafety.com/store/image/cache/data/SF9033-500x500.jpg
- Ditulis untuk http://lorco.co.id/

Tuesday, March 22, 2011

Kopi vs Produktivitas Kerja






Bagi Anda yang sering bekerja di waktu shift malam, pasti akrab dengan minuman beraroma menyegarkan ini. Apalagi jika Anda seorang pekerja kreatif, kopi sangat identik dengan profesi yang mengharuskan banyak berimajinasi dan sering lembur tersebut. Kopi seolah menjadi obat mujarab untuk memunculkan ide dan semangat kerja. Tapi, ada 1 pertanyaan yang perlu Anda jawab dengan jujur, apakah benar dengan meminum kopi akan meningkatkan produktivitas kerja Anda?


Anda ingin lebih produktif? Jauhi kopi!

Pada tahun 2001, sebuah penelitian di Inggris menunjukkan bahwa kafein (zat yang terkandung pada kopi) dapat menurunkan produktivitas kerja karyawan. Penelitian ini berupa survei kepada 1.000 pekerja kantor untuk mengetahui jumlah kopi yang mereka minum sehari-hari kemudian efeknya tehadap suasana hati ,dan produktivitas kerja mereka.

Penjelasan atas hasil riset tersebut ialah kafein merupakan zat diuretik yang melancarkan proses pengeluaran air kencing dari ginjal. Hal ini akan membuat peminum kopi lebih sering mengunjungi toilet pada jam kerja. Menurut ahli gizi, tidak ada yang salah dengan minum tiga atau empat cangkir kopi siang hari, tetapi harus diimbangi dengan minum air dan jus buah untuk menghindari dehidrasi. Karena, tingkat dehidrasi 2 % saja dapat mempengaruhi konsentrasi dan membuat mudah marah.

Sebagai catatatan tambahan, studi ini dibiayai oleh Volvic Mineral Water, yang tentu saja memiliki kepentingan untuk mengurangi kebiasaan minum kopi atau minuman berkafein lainnya dan menggantinya dengan air mineral yang mereka pasarkan.


Terbukti! Kopi menambah semangat kerja!

Untuk para pecinta kopi, saya yakin bagian ini akan menjadi favorit Anda. Sebuah jajak pendapat pada tahun 2004 menunjukkan bahwa kopi meningkatkan produktivitas pekerja. Berikut ini angka hasil survei tersebut:
- 76% responden mengatakan bahwa minuman panas dapat membuat mereka merasa santai.
- 79% responden menyatakan bahwa minum kopi atau teh membuat mereka lebih produktif.
- 63% responden mengatakan bahwa layanan minuman panas (kopi atau teh) di kantor akan
   mempermudah mereka untuk segera kembali fokus bekerja, daripada harus keluar kantor untuk
   membeli di kedai kopi terdekat.
- 47% responden mengatakan bahwa mereka sangat menghargai layanan kopi gratis yang disediakan oleh     kantor.

Ada 3 alasan mengapa kopi dapat membantu meningkatkan kinerja Anda dalam pekerjaan:
1. Kopi meningkatkan kinerja mental Anda
Minum kopi tidak hanya membantu Anda tetap terjaga tapi juga meningkatkan kewaspadaan dan konsentrasi serta menunda kelelahan mental. Kopi juga meningkatkan memori jangka pendek Anda.
2. Meningkatkan daya tahan dan stamina dalam pekerjaan fisik
Kopi bisa mendorong mental Anda untuk menghindari kelelahan saat melakukan pekerjaan fisik. Hal ini akan menambah kemampuan kita untuk bekerja lebih keras dalam waktu lebih lama .
3. Meningkatkan aktivitas sosialisasi
Ya, minum kopi terbukti secara ilmiah dapat meningkatkan kemampuan Anda untuk bersosialisasi. Hal ini masuk akal karena minum kopi bisa mengurangi stres dengan menghilangkan hormon kortisol yang bertanggung jawab pada perilaku cepat marah dan gejala stress lainnya. Jika Anda sering nongkrong di kedai kopi (kafe) tentu dapat merasakan suasana kafe yang dapat membantu menghilangkan stres dan mendorong Anda bersosialisasi.


Kesimpulan Anda?

Nah, beberapa beberapa penelitian ternyata lebih mendukung kebiasaan minum kopi saat bekerja dan Anda para pencinta kopi pasti saat ini sedang tertawa gembira. Tapi, apapun hasil riset mengenai pengaruh kopi terhadap produktivitas kerja ini, kuncinya sebenarnya ada pada diri Anda masing-masing. Jika Anda harus bertugas di shift malam atau Anda seorang pekerja kreatif yang harus keluar dari “kotak” untuk mendapatkan ide-ide baru, tentu akan lebih produktif jika ada secangkir kopi di meja kerja Anda. Kesimpulannya ialah meminum kopi dalam batas tertentu dapat meningkatkan konsentrasi dan daya tahan semangat Anda yang akhirnya dapat meningkatkan produktivitas kerja.


Bagaimana menurut Anda?



- diolah dari berbagai sumber
- sumber gambar: http://www.coffeedetective.com/images/caffeine-the-divine-molecule-maybe-but-it- 
  has-an-odd-effect-on-people-and-small-dogs-21393911.jpg
- ditulis untuk http://lorco.co.id/

Friday, February 18, 2011

Apa cita-cita Anda hari ini?






Bagi saya, cita-cita itu dinamis, selalu tumbuh mengikuti peningkatan kualitas diri. Dulu jaman masih SD, saya bercita-cita menjadi seorang ahli ekonomi. Saya lupa, alasan apa yang membuat bocah belum akil baligh itu punya cita yang berbeda dengan kebanyakan anak seusianya. Mungkin, karena saya doyan melahap berita ekonomi nasional maupun dunia di harian Suara Merdeka, Kompas atau Republika untuk menemani sarapan sebelum saya berangkat sekolah.

Usia SMP, dengan semakin berkembangnya usia dan pelajaran hidup yang menjejali diri, saya memutuskan untuk mengubah cita-cita. Waktu itu menjelang Pemilu 1999, para tokoh politik berlomba menjajakan konsep perbaikan negeri ini. Saya sangat mengagumi salah satu di antaranya sehingga menginspirasi saya bercita-cita menjadi politisi. Sering saya membayangkan, suatu hari akan berorasi tentang demokrasi dan kesejahteraan negeri di panggung politik tanah air. Wow...hebat sekali impian anak usia 13 tahun bercelana pendek selutut itu.

Ketika sekolah di SMA, lagi-lagi saya harus mengubah cita-cita. Berawal dari membaca sebuah buku tentang arsitektur dan tata kota karya Prof. Eko Budihardjo (Rektor Undip saat itu), lentera jiwa saya lirih membisikkan: “Inilah masa depan saya.” Sejak itu, saya mulai menuliskan kata “arsitek” dalam kolom cita-cita di setiap lembar biodata yang harus saya lengkapi. Hingga suatu hari di tahun 2002 ketika ratusan ribu anak lulusan SMA sedang menantikan pengumuman UMPTN tahun itu, saya sedikit tak percaya bahwa Jurusan Arsitektur Undip sudi mengijinkan saya belajar di sana.

Ternyata, cita-cita menjadi seorang arsitek hanya bertahan 2 tahun dalam lembaran hidup saya. Semester ke-5, saya menemukan sebuah kata;“Copywriting” dan saya pun jatuh cinta. Saya mulai belajar bagaimana menulis secara kreatif sekaligus persuasif dan bisa menyampaikan pesan secara efektif serta efisien. Artikel dan ebook tentang bagaimana memasarkan dan menjual dengan kata-kata, menjadi santapan sehari-hari. Hingga saya mulai akrab dengan Periklanan (advertising), Permerekan (branding) dan Pemasaran (marketing), yang semakin meyakinkan saya untuk menjadi seorang Copywriter. Cita-cita itu masih bertahan hingga sekarang, ketika saya sedang merampungkan tulisan ini.

Setiap episode kehidupan adalah misteri, hingga kita selesai melaluinya. Kata Steve Jobs:” Hidup itu menghubungkan titik-titik, yang hanya bisa dilakukan dengan melihat apa yang sudah Anda jalani.” Hingga detik ini, saya masih bebas untuk memutuskan akan menjadi seperti apa di masa depan. Apapun itu, semoga bisa menjadi lentera jiwa dan menjadi manfaat untuk sesama.

Jadi, apa cita-cita Anda hari ini?


- Sumber gambar:  http://www.effective-time-management-strategies.com/images/goal_setting_forms.jpg